Monday, April 2, 2007

Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP)

Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP): Gerakan Sosial Kritis Berbasis Keluarga *) Oleh: Zamzam Muzaki SM**) ”Jika Anda ingin kemakmuran satu tahun, tanamlah padi. Jika Anda ingin kemakmuran sepuluh tahun, tanamlah pepohonan. Jika Anda ingin kemakmuran seratus tahun, kembangkan manusia.” (Pepatah lama Cina) Untuk mengembangkan manusia bagi kemakmuran seluruh alam, pendidikan adalah kuncinya. Sayangnya, pendidikan di dunia global saat ini diwarnai oleh lebarnya rentang kualitas antara pendidikan di negara maju dengan negara berkembang. Disamping itu kesenjangan juga terjadi pada tingkatan lokal, seperti Indonesia. Misalnya untuk pendidikan jenis sekolah, sekolah elit (baca: favorit) mendapatkan perlakuan yang lebih istimewa terutama dari pemerintah dibanding pendidikan non favorit. Sehingga amat sulit bagi rakyat miskin atau marjinal untuk dapat mengakses pendidikan yang bermutu karena mahalnya biaya yang ditawarkan dalam satuan-satuan sekolah tertentu (favorit). Ketidakseimbangan ini berjalan sudah cukup lama dan terus berkelanjutan dalam dunia pendidikan kita. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa sudah cukup lama masyarakat kita mempercayakan pendidikan anak kepada sebuah institusi-pendidikan; mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Pertama (SMP), Sekolah Lanjutan Atas (SMA) hingga Perguruan Tinggi (PT). Hal ini dapat dikatakan juga, kepercayaan masyarakat terhadap institusi-pendidikan sudah jauh berkembang sebagai budaya yang kemudian membentuk mind set kebanyakan masyarakat kita. Namun kepercayaan yang terbangun tersebut melahirkan konsekuensi lain. Salah satunya adalah peran keluarga sebagai unit terkecil masyarakat (yang merupakan akar sebenarnya dari pendidikan anak) terasa sering diabaikan. Kemudian melihat mahalnya biaya pendidikan anak yang harus dikeluarkan, pemenuhan hak anak atas pendidikan dari kalangan keluarga “termarjinalkan” menjadi terhambat. Oleh karena itu, mengembalikan pendidikan anak pada akarnya dapat menjadi salah satu solusi dalam pemenuhan hak anak atas pendidikan. Melalui peningkatan partisipasi seluruh anggota keluarga, baik anak–anak maupun orang dewasa dalam kerangka aksi pendidikan untuk semua, diyakini akan membawa bangsa Indonesia ke arah yang lebih baik. Berawal dari keinginan sejumlah praktisi pendidikan dan keluarga muda dari berbagai profesi, Perkumpulan Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) hadir sebagai wahana bagi keluarga Indonesia untuk bersama menyelaraskan harapan dan gagasan tentang pendidikan. Penguatan Akuntabilitas Sekolah Disadari atau tidak, dalam dua dekade terakhir telah tumbuh suatu masyarakat baru di Indonesia dengan karakteristik khas: terdidik, meluangkan waktu dan antusias datang ke sekolah putera/puterinya dengan membawa pesan “apa yang bisa saya bantu bagi perkembangan sekolah”. Disamping itu mereka juga inten membincangkan perkembangan anaknya dengan sesama orang tua, bertukar pikiran, bahkan tidak kurang pula turut memberikan saran dan masukan kepada sekolah anaknya. KerLiP tumbuh bersama keluarga-keluarga (masyarakat) yang telaten memperhatikan tahap demi tahap pertumbuhan dan perkembangan anak-anak mereka. Mereka mencari sekolah bagi anaknya yang bukan “sekolah biasa”, dan seperti mendapat “habitatnya” ketika sekolah-sekolah tersebut begitu terbuka, bahkan antusias terhadap setiap masukan mereka. Fenomena tersebut berkaitan erat dengan upaya peningkatan kemampuan dan kapasitas pendidik dalam mengembangkan pendidikan berbasis komunitas baik di sekolah, rumah, maupun di masyarakat. KerLiP mendorong kesadaran kritis pendidik untuk menjalankan otoritas pedagogik secara kreatif dan inovatif demi kepentingan terbaik bagi tumbuh kembangnya anak. Untuk mencapai cita-cita tersebut, KerLiP giat memfasilitasi pendidik di sekolah, rumah, dan masyarakat untuk; (1) Menguatkan partisipasi keluarga terutama anak dan perempuan dalam perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi pengembangan sekolah alternatif; (2) mengelola Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) yang berpusat pada tumbuh kembang anak; (3) Menyusun sumber belajar berkonteks lokal dan membebaskan; dan (4) Menguatkan organisasi guru. Pengembangan pendidikan berbasis komunitas yang berpusat pada tumbuh kembang anak Program ini bertujuan untuk mengimplementasikan konsep pendidikan anak merdeka, yang berorientasi pada tumbuh kembang anak, guru, kepala sekolah, orang tua siswa dan stakeholder pendidikan lainnya dalam satuan sekolah. Semua stakeholder didorong untuk tumbuh bersama mensinergikan gagasan dan harapan demi kepentingan terbaik bagi anak. KerLiP melakukan penelitian dan mengembangkan pendidikan alternatif guna mendorong demokratisasi pendidikan melalui penguatan partisipasi keluarga terutama perempuan dan anak dalam pendidikan. Perintisan Rumah KerLiP Setelah lebih dari 6 tahun merintis dan mengembangkan model pendidikan anak merdeka di SD Hikmah Teladan dan berbagai sekolah berbasis keluarga lainnya di Jawa Barat, KerLiP mendirikan wadah bagi gerakan sekolah rumah tunggal bernama Rumah KerLiP. Rumah KerLiP bergabung dengan ASAH PENA (Asosiasi Sekolahrumah dan Pendidikan Alternatif) untuk bersama keluarga penyelenggara sekolahrumah mengimplementasikan pendidikan anak merdeka dengan model homeschooling. Penyelenggaraan pendidikan di Rumah KerLiP dilaksanakan dengan menjunjung tinggi prinsip Hak Asasi Manusia (HAM) dalam upaya membangun demokratisasi pendidikan demi kepentingan terbaik anak. Kemitraan KerLiP Kemitraan lembaga pendidikan berbasis sekolah, khususnya sekolah swasta, dalam satu wadah Litbang di Indonesia masih langka. Sejak didirikan pada tanggal 25 Desember 1999 di Bandung, Perkumpulan KerLiP memperkuat perintisan Litbang di Yayasan Asih Putera dan membidani lahirnya Litbang Perguruan Darul Hikmah yang menaungi SD Hikmah Teladan mulai bulan Juni 2001. Hal ini sejalan dengan visi KerLiP menjadi gerakan sosial berbasis keluarga untuk mendorong demokratisasi pendidikan di Indonesia. KerLiP sadar bahwa untuk mencapai visi yang dicita-citakan, membutuhkan banyak tenaga dan jaringan yang kuat. Maka dari itu KerLiP bekerjasama/bermitra dengan banyak kelompok peduli, di antaranya: · Pusat Kurikulum Balitbang Diknas Jakarta untuk pendampingan pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran; · Forum Koordinasi Nasional Eduation For All, Pemda Jabar; Dinas Pendidikan Propinsi Jabar, Kota Bandung, Kota Cimahi, Global Campaign for Education, Asia Pacific Berau Adult Education, Oxfam GB Indonesia, OXFAM Internasional, CBE, E net for Justice Indonesia, Koalisi Pendidikan Kota Bandung, Forum Komunikasi PKBM Indonesia, DMI Jabar, Aceh Working Group dan komunitas penggiat pendidikan lainnya dalam kegiatan kampanye Education for All di NAD, Jakarta dan Jabar; · Puskur Balitbangdiknas dalam pengembangan model-model kurikulum SETS, Multikultural, Tematik, Pendidikan Layanan Khusus di daerah terpencil, perbatasan, golongan sosial ekonomi rendah, dan daerah bencana serta pendidikan khusus; · dll. Penutup Akhirnya, bersama dengan datangnya era otonomi pendidikan, dan kesetaraan tentang pentingnya dan tidak bisa ditundanya persoalan-persoalan makro dan mikro pendidikan untuk menjadi wacana bersama, Keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) bermaksud mengambil inisiatif merumuskan saran dan pertimbangan bagi pengambilan keputusan kebijakan makro pendidikan serta menggiatkan partisipasi masyarakat dalam tataran mikro, termasuk pengerjaan pilot project yang dapat dijadikan model oleh masyarakat. Langkah yang ditempuh KerLiP adalah bagian tak terpisahkan dari keinginan untuk mendorong demokratisiasi pendidikan di Indonesia melalui peningkatan partisipasi anak, keluarga dan masyarakat dalam kerangka aksi dan advokasi Education for All. Dengan pendidikan kita bangkit menjadi bangsa bermartabat. *) Tulisan ini dimuat di Harian Pagi Radar Bandung Edisi 02 April 2007 **)Anggota Koalisi Pendidikan Kota Bandung (KPKB) dan Koordinator Perkumpulan keluarga Peduli Pendidikan (KerLiP) Wilayah Bandung